UMUR IBU DAN PARITAS SEBAGAI FAKTOR RESIKO KELAHIRAN PREMATUR DI PUSKESMAS MANDIRAJA 1 KABUPATEN BANJARNEGARA
Kata Kunci:
Umur Ibu, Paritas, PrematurAbstrak
Angka Kematian Bayi (AKB) dihitung dari jumlah kematian bayi 0 < 12 bulan per 1000 kelahiran hidup di suatu wilayah dalam satu tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Banjarnegara tahun 2018 adalah 14,1/1000 kelahiran hidup dimana secara absolut dihitung dari jumlah kematian bayi sebesar 216 dengan kelahiran hidup sebesar 15.317. Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2018 meningkatkan dibandingkan tahun 2017 yang hanya sebesar 13,37/1000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian 204 kasus dari 15.255 kelahiran hidup. Salah satu hambatan penting untuk kemajuan MDGs 4 sehingga gagal untuk mengurangi kematian bayi yaitu kematian akibat penyebab tunggal, prematuritas. Persalinan prematur merupakan hal yang berbahaya karena potensi meningkatkan kematian perinatal sekitar 65%-75%, umumnya berkaitan dengan berat bayi rendah yaitu beratnya kurang dari 2.500 gram. Beberapa faktor mempunyai andil dalam terjadinya persalinan prematur seperti faktor pada ibu, faktor janin dan plasenta, ataupun faktor lain seperti sosioekonomik. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambar umur ibu dan paritas sebagai faktor resiko kelahiran prematur. Metode dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian analisis deskriptif dengan melihat faktor umur ibu dan paritas sebagai resiko kejadian kelahiran prematur. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling yaitu pengambilan semua sampel dari jumlah total populasi. Metode pengambilan data pada penelitian ini dilakukan melalui data sekunder, yaitu pengambilan data rekam medis. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden 90,3% (37 orang) kategori berumur resiko rendah (20-35 tahun), dan terdapat 9,7% (4 orang) kategori berumur resiko tinggi (<20 dan >35 tahun). Lebih dari separuh paritas ibu dalam kategori resiko rendah yaitu 22 responden (53,7%) dan sebagian lagi yaitu 19 responden (46,3%) masuk dalam kategori resiko tinggi.